Berbagi Pengalaman dengan Delegasi Ghana

Foto diskusi bersama delegasi Ghana

Jaringan Pemantau Independen Kehutanan ( JPIK) kali ini mendapatkan kesempatan berbagi pengalaman dengan Delegasi Ghana tentang pelaksanaan FLEGT – VPA di Indonesia, acara ini dilaksanakan di kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan padahari Rabu  (09/8/2017). Kedatangan Delegasi Ghana ke Indonesia  juga bertemu denganKementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,
Asosiasi, Lembaga Sertifikasi  dan berkunjung ke salah satu perusahaan pengolahan kayu. Kedatangan delegasi Ghana ini mewakili beberapa  lembaga pemerintahan di Ghana, Pengusaha dan CSO.

Ghana memiliki sekitar 2,6 juta hektar cadangan hutan yang dialokasikanuntuk produksi kayu, dan tambahan 2 juta hektar lahan pertanian yang juga menghasilkan kayu. Negara ini juga memiliki 500.000 hektar hutan. Sektor kehutanan merupakan penyumbang terbesar keempat terhadap PDB Ghana. Ghana memiliki reputasi yang kuat untuk inovasi pemrosesan kayu, memproduksi yang sangat sesuai dengan permintaan pasar Eropa. Sekitar sepertiga ekspor kayu Ghana dikirim ke Uni Eropa. Ghana telah meratifikasi VPA dengan Uni Eropa dan sedang mengembangkan sistem yang diperlukan untuk mengendalikan, memverifikasi dan memberi lisensi kayu legal.

JPIK banyak menyampaikan pengalaman  ketika terlibat langsung dalam proses membangun SVLK, melakukan pemantauan implementasi SVLK dan advokasi kebijakan, serta tantangan yang dihadapi JPIK dalam menjalankan perannya sebagai Pemantau Independen.

Indonesia sejak 2007 telah melakukan negoisasi dengan Uni Eropa untuk mendukung produk perkayuan legal melalui Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) yang merupakan kebijakan soft approach dalam pemberantasan illegal logging. Tahun lalu Indonesia dianggap siap menerima perjanjian FLEGT-VPA dengan Uni Eropa. Diputuskan bahwa Indonesia dapat menerbitkan Lisensi-FLEGT pada 15 Nopember 2016. Dengan demikian Dokumen V-Legal yang diterbitkan untuk tujuan Uni Eropa per 15 November 2016 akan berfungsi sebagai Lisensi-FLEGT.Indonesia merupakan negara pertama di dunia yang mendapatkan  FLEGT- Licence dari Uni Eropa.