Di Sela COP 21, Indonesia dan China Bahas Kayu

PARIS, KOMPAS.com – Indonesia dan China membahas promosi perdagangan kayu legal dari Indonesia yang berbasiskan Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu (SLVK), untuk menguatkan hubungan perdagangan kedua negara. Pertemuan berlangsung di sela-sela COP 21 UNFCCC mengenai perubahan iklim di Paris, Prancis, Selasa (1/12/2015).

Delegasi Indonesia dipimpin Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Putera Parthama, sementara dari Tiongkok dipimpin Deputi Dirjen Departemen Kerjasama Internasional dari Administrasi Keuangan Kehutanan Negara China, Chunfeng Wang.

“Ïni sebuah kerjasama penting dengan Tiongkok guna mempromosikan perdagangan kayu legal, sementara ekspor Indonesia paling signifikan ke Tiongkok adalah produksi kayu kita,” kata Putera.

Berdasarkan Sistem Informasi Legalitas Kayu atau SILK, sampai November 2015, ekspor produk kayu Indonesia ke China mencapai 4,2 juta ton senilai 2 miliar dollar AS.  Pasar China jauh di atas Jepang, yang berada di posisi kedua,  dengan menyerap 1,6 juta ton kayu senilai 1,2 miliar dollar AS.

Menurut Putera,  Indonesia telah mengembangkan sistem SLVK, sebagai bentuk upaya pemberlakuan tindakan hukum mengurangi pembalakan liar. SLVK, saat ini diberlakukan untuk kayu ekspor. Sistem ini memberi insentif bagi legalitas dengan mendorong terjadinya akses pasar bagi produk-produk tidak legal.

SLVK juga mendorong reformasi tata kelola hutan yang lebih luas, seperti perbaikan sistem informasi, transparansi, dan peningkatan kapasitas dan hak bagi masyarakat lokal.

“Dengan meningkatnya permintaan global atas produk hijau yang legal, Indonesia mempunyai posisi penting untuk pasar-pasar ini dengan adanya SLVK,” tambahnya.

Indonesia merupakan negara pertama di Asia yang berhasil menegosiasi dan meratifikasi kesepakatan Forest Law Enforcement, Governance and Trade Voluntary Partnership dengan Uni Eropa.

Selain Uni Eropa, Australia juga mengakui SLVK sebagai jaminan kayu dari Indonesia memenuhi legalitas.

Sementara itu delegasi Tiongkok Chunfeng Wang, menyambut baik kerja sama tersebut, apalagi sebelumnya Indonesia dan Tiongkok memiliki perjanjian kerja sama pemberantasan illegal loging.

“Ini langkah baik dalam upaya legalitas kayu Indonesia sebagai bentuk menekan illegal loging dan SLVK merupakan gagasan besar, kami akan ikuti sistem Indonesia untuk memenuhi kebutuhan kayu kami (Tiongkok),” ucap Chunfeng Wang.

 

Penulis : Kontributor Bengkulu, Firmansyah

Editor : Erlangga Djumena

Sumber:

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/12/02/111200726/Di.Sela.COP.21.Indonesia.dan.China.Bahas.Kayu