Program Forest Guardian yang digagas oleh JPIK Provinsi Sumatera Barat bertujuan untuk menyuarakan pentingnya kelestarian kawasan konservasi melalui kampanye menggunakan media digital dan memberikan wawasan tentang kehutanan serta jurnalistik kepada kaum muda. Salah satu kegiatan dalam program ini adalah Focus Group Discussion (FGD) “Yang Muda Yang Menjaga” Internalisasi dan Sosialisasi Program Kaum Muda Jaga Hutan yang diadakan pada Kamis, 22 Februari 2024 di Whiz Prime Hotel Padang.

Kegiatan ini melibatkan 40 orang dari berbagai lembaga pemerintah dan non-pemerintah, termasuk BPBD Provinsi Sumatera Barat, GAKKUM KLHK Wilayah Sumatera Barat, organisasi lingkungan seperti WALHI, media seperti mongabay, serta anggota Forest Guardian Sumatera Barat dan lainnya.

FGD ini diawali dengan kata sambutan dari Direktur Eksekutif Daerah Sumatera Barat, Khalid Khalilullah dan dilanjut dengan Danial Dian Prawardani sebagai Manajer Program. Selanjutnya, Penyampaian materi oleh beberapa narasumber, antara lain Samsul Bahri dari Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat yang membahas perlindungan hutan berbasis masyarakat. Selanjutnya, Eka Dhamayanti dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Sumatera Barat menjelaskan kondisi dan tantangan pengelolaan kawasan konservasi di Sumatera Barat. Diskusi juga melibatkan AKBP Tiga Kasubdit Tindak Pidana Tertentu dari POLDA Sumatera Barat, yang berbicara tentang peran penegakan hukum dalam menjaga hutan, serta Khalid Saifullah S.Sos, mantan Direktur WALHI Sumatera Barat, yang berbagi tentang membangun gerakan kaum muda untuk memulihkan hutan.

Dalam presentasinya, Samsul Bahri menguraikan peran serta masyarakat dalam perlindungan hutan, termasuk pembentukan Lembaga Masyarakat Hutan Berbasis Nagari (LMPHBN) sebagai upaya mendukung kelestarian hutan. Eka Dhamayanti menjelaskan tugas pokok dalam pengelolaan kawasan konservasi di SUMBAR, mencakup berbagai aspek seperti perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan sumber daya alam. Dia juga menyampaikan beberapa inisiatif yang melibatkan generasi muda, seperti patroli anak nagari dan pembentukan green movement.

Alen Saprika, sebagai pengelola acara, menyoroti pentingnya LHBN di BKSDA, patroli anak nagari, dan program forest guardian sebagai peluang bagi kaum muda untuk berperan aktif dalam menjaga hutan di Sumatera Barat. Diskusi berlanjut dengan pertanyaan kepada Khalid Saifullah tentang bagaimana membangun gerakan kaum muda untuk memulihkan hutan, menegaskan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam upaya pelestarian lingkungan.