Newsletter JPIK Edisi 12 “The Monitor”

Newsletter JPIK Edisi 12 “The Monitor”

Newsletter “The Monitor” ke-12 kali ini menyajikan berbagai informasi terkait perkembangan dan perbaikan pengelolaan hutan di Indonesia.

Pada Desember 2018 lalu JPIK sebagai salah satu perwakilan dari Indonesia diundang dalam pertemuan United Nations Convention Against Corruption (UNCAC) di Bangkok. Dalam rangka memperingati hari anti korupsi internasional tersebut JPIK ikut serta berpartisipasi melawan kejahatan dan korupsi kehutanan melalui pemantauan hutan secara independen.

Sejak tahun lalu, intensitas pemberantasan perdagangan kayu ilegal terus ditingkatkan oleh Gakkum KLHK. Desember 2018 misalnya, Gakkum KLHK baru saja menangkap total 384 kontainer kayu merbau ilegal di Surabaya. Kinerja Gakkum KLHK patut diapresiasi, disisi lain hal ini juga menunjukkan bahwa aktvitas penebangan kayu ilegal masih terus terjadi.

Selain itu, persidangan perusahaan perusak hutan dan lahan, PT Jatim Jaya Perkasa (JJP) di Riau telah diputus oleh pengadilan dan berkekuatan hukum tetap. Lanjutan kasus ini berimbas pada Prof. Bambang Hero Saharjo, sebagai saksi ahli dalam kasus tersebut, Prof. Bambang justru digugat oleh PT JJP yang merasa keberatan dengan kesaksian Prof. Bambang.

Hal lain berkaitan dengan usaha JPIK dalam memperoleh data dan informasi masih menemui hambatan. Permohona data yang JPIK ajukan terbilang sulit dan memakan waktu. Padahal kebutuhan akan data dan informasi sangat menunjang kegiatan pemantauan JPIK kerjakan demi perbaikan pengelolaan hutan di Indonesia.

Selain itu, proses rancang ulang Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang digelar pemerintah diharapkan mampu mendorong perbaikan tata kelola perkebunan kelapa sawit seakan lari dan melupakan komitmen yang diharapkan. Hilangnya dua prinsip terkait Hak Asasi Manusia (HAM), serta ketertelusuran dan transparansi menjadi langkah mundur dalam membangun sistem yang kredibel.

Kabar lain juga datang dari berbagai daerah. Tanah Papua misalnya, menampilkan sosok perempuan dalam pemanfaatan hutan sagu kampung Manyaifun. Kemudian dari Pulau Sangiang, seorang pria yang berjuang menjaga tanah dan lingkungannya dari perampasan lahan yang dilakukan oleh perusahaan.

Download Newsletter “The Monitor” ke-12:
Bahasa Indonesia