Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) merupakan salah satu kawasan konservasi terbesar di Indonesia, membentang di empat provinsi dan menjadi habitat penting bagi berbagai spesies langka seperti Harimau Sumatera. Namun, di balik statusnya sebagai kawasan lindung, TNKS terus menghadapi ancaman deforestasi yang kompleks. Tidak hanya karena aktivitas ilegal seperti pembalakan liar atau alih fungsi lahan, tetapi juga karena dinamika sosial yang melibatkan sejarah etnisitas, relasi agraria, serta tekanan ekonomi dari komoditas global.
Laporan ini merupakan hasil kajian Jaringan Pemantau Independen Kehutanan (JPIK) di wilayah Jambi dan Sumatera Barat. Melalui pendekatan etnografis dan ekologi politik, laporan ini mengurai bagaimana sejarah kolonial, struktur sosial masyarakat, transformasi ekonomi lokal, dan kebijakan konservasi saling bertemu dalam satu lanskap yang mempengaruhi nasib hutan dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Kajian ini tidak hanya menjadi dokumentasi penting tentang kondisi lapangan, tetapi juga menjadi refleksi kritis atas bagaimana kebijakan lingkungan dan pembangunan semestinya memperhitungkan konteks lokal, kearifan adat, serta keadilan sosial. Laporan ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan, akademisi, aktivis, dan masyarakat luas dalam membangun pendekatan pengelolaan hutan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
