Transisi energi melalui cofiring biomassa telah digadang-gadang sebagai langkah menuju pengurangan emisi karbon dan penggunaan energi terbarukan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan praktik ini memunculkan berbagai persoalan serius yang berdampak pada lingkungan, masyarakat, dan ekonomi.
Hutan Tanaman Energi (HTE), yang menjadi salah satu sumber utama biomassa, ternyata memicu deforestasi, mengganggu ekosistem lokal, dan merugikan petani hutan dari segi sosial maupun ekonomi. Selain itu, industri biomassa dan pembangkit listrik berbasis cofiring menunjukkan kelemahan dalam keterlacakan bahan baku, bahkan berpotensi melibatkan aktivitas yang tidak berkelanjutan.
Realitas ini mengingatkan kita akan pentingnya mengevaluasi kebijakan transisi energi, memastikan keberlanjutan lingkungan, perlindungan ekosistem, serta keadilan sosial bagi masyarakat yang terdampak.
